luv jingga

3889680932.jpgme            jngga-2.jpgpuncak      jinga-3.jpg   setitik    celotehan-jingga.jpgcelotehcemara-jingga.jpgcemara   jingga-cave.jpgcave     sundown-jingga.jpg              jinggaa.jpgawan-jingga1.jpgawanjingga-lake.jpglake    disappear-jingga.jpgdisapear 

 3879449421.jpgme

            

lesson-in-jingga.jpgLesson in jingga

journey-of-jingga.jpgJourney in jingga

our-jingga.jpgour jingga 

lorong-jingga.jpg   lorong Jingga

senja1.jpghold jingga

all pic take from your’s

Engkau tau aku sangat suka Jingga , jadi kembalikan jingga yang telah kau curi dariku

Advertisements

2 comments on “luv jingga

  1. Selimut Jingga Untuk Kekasihku

    Liana, jika suatu saat kau menerima kiriman paket sebesar kotak sepatu, itu adalah paket dariku yang aku kirimkan dari suatu tempat. Maaf, aku tidak bisa menuliskan namaku di paket itu dan dari mana aku mengirimkannya. Sebab, jika orang-orang tahu paket itu kiriman dariku, aku tidak bisa menjamin paket itu akan sampai kepadamu. Jika mereka tahu dari mana aku mengirimkannya, mereka akan memburuku untuk menghukumku.

    Bukalah paket itu, Liana. Tapi, harus aku ingatkan kepadamu, jangan kau buka paket itu di tempat sembarangan. Jangan kau buka di ruang tengah rumahmu, apalagi langsung kau buka di depan tukang pos yang mengantarkannya. Oh ya, berikan sedikit uang tip kepada tukang pos yang telah mengantarkan paket itu karena ia telah dengan selamat mengantarkan paket itu kepadamu. Bawalah paket itu ke kamarmu saja, dan pastikan jendela kamarmu tertutup semuanya. Jangan biarkan orang lain di luar rumahmu mengintipnya. Pastikan juga tidak ada celah sedikitpun. Jika masih ada celah di kamarmu, sementara kau buka paket itu, orang-orang akan berdatangan dengan segera ke rumahmu untuk mengambil kembali isi paket yang telah kukirimkan dengan susah payah kepadamu.

    Ya, aku tahu kau pasti akan bertanya-tanya apa isi paket yang akan aku kirimkan itu, sampai-sampai aku harus memperingatkanmu. Isi paket itu kukirimkan hanya untukmu, Liana. Sejak kau menerimanya, hanya kaulah satu-satunya perempuan yang akan memilikinya, bahkan satu-satunya manusia yang memiliki isi paket itu. Paket itu berisi selimut jingga yang telah kucuri diam-diam dari senja. Ah, pasti kau akan tahu, mengapa akhir-akhir ini senja tidak lagi berwarna jingga.

    Ya, ya. Kau pasti akan bertanya-tanya mengapa aku bisa mencuri selimut jingga itu dari senja. Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu. Mungkin aku tidak bisa menceritakan secara keseluruhan perjalanan yang aku lalui sampai aku bisa mengirimkan paket berisi selimut jingga itu kepadamu. Aku hanya bisa menceritakan garis besarnya saja. Kau tahu, waktuku tidak cukup banyak di satu tempat untuk menuliskan kisah yang panjang. Orang-orang masih terus mencariku, dan aku harus bersembunyi dari kejaran mereka. Saat aku menuliskan surat ini, paket berisi selimut jingga telah siap untuk kukirimkan, tapi aku harus mencari kantor pos yang cukup aman untuk mengirimkannya. Mungkin, surat ini akan tiba selang beberapa hari, mungkin bulan, bahkan tahun sebelum paket berisi selimut jingga itu datang kepadamu. Semoga kau sabar menunggunya, Liana.

    Baiklah, aku akan menceritakannya. Kau masih ingat, kau pernah bercerita dalam suratmu kepadaku tentang Alina, temanmu yang mendapat kiriman sepotong senja seukuran kartu pos dari kekasihnya, dan kau begitu iri kepadanya. Lantas, kau memintaku untuk mengirimimu sepotong senja yang lain. Tahukah kau, membaca suratmu itu, aku juga merasa iri kepada kekasih Alina. Ia sungguh telah menghadiahkan hadiah paling indah kepada kekasihnya. Aku bertanya kepada diriku sendiri, apa yang telah aku hadiahkan kepadamu.

    Setelah membaca suratmu itu, setiap senja aku selalu melamun di tepi pantai, menunggu senja terindah yang bisa aku kerat diam-diam untuk kukirimkan kepadamu. Tetapi aku selalu gagal, orang-orang begitu ramai mengagumi senja di tepi pantai bersama kekasih-kekasih mereka, keluarga-keluarga mereka, teman-teman mereka. Dan itu semakin membuatku tersiksa mengingatmu, Liana. Sendirian aku selalu menunggu saat-saat yang tepat untuk mengerat senja diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.

    Lalu, pada suatu senja, entah senja keberapa sejak aku mulai menunggu di tepi pantai itu, pantai terlihat sangat ramai dari biasanya. Aku baru ingat kalau senja itu adalah senja terakhir di tahun itu. Orang-orang mungkin ingin menitipkan kesusahan, penderitaan dan rasa sakit mereka di tahun itu bersama tenggelamnya matahari terakhir. Mungkin mereka berharap, di tahun-tahun mendatang, segala kesusahan, penderitaan dan rasa sakit itu tidak akan kembali lagi. Melihat keramaian yang tidak biasanya itu, rasa sakitku mengingat kesendirian tanpamu semakin terasa. Aku memutuskan untuk menyingkir dari keramaian dan berjalan ke salah satu sisi pantai paling ujung yang sepi, tidak ada siapapun di sana. Tahukah kau, Liana, apa yang aku temukan di ujung pantai itu?

    Di ujung pantai itu hanya ada aku dan kesunyian. Dalam tingkahan suara camar dan debur ombak aku duduk di atas salah satu karang yang terasing dari kumpulannya. Senja begitu indah jika dilihat dari sana, Liana. Pantulan cahaya jingga yang berenang-renang di atas permukaan air membawakan kerinduanku kepadamu. Lalu aku melihatnya, Liana. Aku melihat salah satu ujung selimut jingga yang menutupi senja. Ujung selimut itu melambai-lambai dipermainkan ombak. Seketika aku merasa sangat bahagia, Liana. Akhirnya aku telah menemukan hadiah terindah yang akan kupersembahkan kepadamu, lebih indah dari hadiah yang pernah diterima oleh Alina dari kekasihnya.

    Dengan gerak yang sangat cepat aku tarik ujung selimut jingga itu. Kau tahu apa yang terjadi setelah itu, Liana? Senja seketika menjadi hitam, gelap. Matahati yang telah tenggelam lebih dari separuhnya menjadi putih pucat. Bersamaan dengan itu aku mendengar dari kejauhan jeritan serentak orang-orang. Sesaat kemudian aku mendengar suara keributan. Orang-orang panik. Anak-anak kecil menangis. Para pemuda marah dan memaki-maki. Mungkin kemesraan mereka dengan kekasih-kekasih mereka terganggu dengan hilangnya jingga dari senja yang mereka tuntut untuk menjadi saksi cinta kasih mereka di penghujung tahun itu.

    Segera aku lipat selimut jingga yang telah kucuri dari senja, sebelum orang-orang menyadari bahwa selimut jingga dari senja telah aku curi. Selimut jingga itu begitu tipis hingga dapat kulipat menjadi selebar buku catatan, dan ketebalan lipatan itu tak lebih dari tebal kitab suci yang dulu semasa kecil sering kita baca bersama di surau dan madrasah. Lalu aku selipkan selimut jingga itu ke dalam jaketku dan aku berjalan menjauh dari pantai, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

    Namun rupanya, jaketku tak cukup tebal untuk menahan pancaran cahaya jingga selimut itu. Cahaya jingga berpendar dari seluruh tubuhku, dan orang-orang mulai menyadari akulah yang telah mencuri selimut jingga dari senja. Mereka mengejarku beramai-ramai, Liana. Anak-anak, lelaki dan perempuan, tua dan muda, semuanya berteriak di belakangku. Geram, kesal dan marah terbawa bersama teriakan-teriakan mereka. Aku berlari sekencang-kencangnya. Kutelusuri jalan-jalan kecil, gang, dan lorong-lorong untuk bersembunyi. Sengaja aku tidak mengambil jalan utama, karena dengan mudah orang-orang bisa mengejarku dengan motor-motor dan mobil-mobil mereka, dan aku pasti tertangkap.

    Sia-sia saja aku berbelok-belok, menembus jalan dan lorong-lorong kecil untuk menghindar dari kejaran mereka. Orang-orang dengan mudah menandai keberadaanku dengan cahaya jingga yang berpendar dari sekujur tubuhku. Aku sempat putus asa, Liana. Aku tergoda untuk menyesali perbuatanku mencuri selimut jingga dari senja, dan ingin menyerahkan saja selimut jingga yang ada di balik jaketku kepada mereka yang mengejarku, untuk kembali di hamparkan di cakrawala. Namun, keinginanku yang begitu kuat untuk bisa memberimu hadiah terindah, mengalahkan segala godaan itu. Aku terus berlari dan berlari, hanya sesekali berhenti untuk menarik nafas dan memilih jalan mana yang selanjutnya akan kulewati. Di saat aku berhenti itulah seketika keringat mengalir dari seluruh pori-poriku.

    Aku berlari membelok pada sebuah jalan kecil di sisi pemakaman yang tak berpagar. Malam telah lama beranjak sejak kucuri selimut jingga dari senja. Cahaya jingga yang berpendar dari balik jaketku remang menerangi barisan nisan yang tegak dalam diam. Aku ngeri sebenarnya, membayangkan orang-orang mati di pemakaman itu mendadak bangkit dan ikut mengejarku. Ah, tidak ada alasan bagi mereka untuk mengejarku. Orang mati tidak akan pernah kehilangan jingga dari senja. Mereka telah terbiasa dengan kegelapan. Apakah kau sependapat denganku, Liana?

    Kegelapan? Mendadak muncul gagasan dalam benakku. Aku tergoda untuk menggali sebidang tanah di pemakaman itu dan menyembunyikan selimut jingga di sana. Lalu aku akan lari entah kemana dan bersembunyi lama sampai orang-orang bosan mengejarku. Aku akan menunggu sampai orang-orang telah terbiasa kehilangan jingga dari senja. Setelah itu, kembali akan kugali sebidang tanah itu dan membawa selimut jingga itu dengan aman tanpa takut ada yang mengejarku, toh orang-orang sudah tidak akan tahu jika senja pernah berwarna jingga. Seulas senyuman mengembang dari bibirku memikirkan hal itu.

    Tapi, tunggu dulu, Liana. Siapa yang bisa menjamin bahwa selama aku menunggu, pemakaman itu akan tetap menjadi pemakaman? Mungkin saja sebulan atau setahun lagi pemakaman itu sudah berganti menjadi pusat perbelanjaan atau perkantoran. Kau tahu. Liana, pembangunan di kota yang tengah kusinggahi ini sedang pesat-pesatnya. Hutan-hutan ditebang untuk membuka perumahan dan pabrik-pabrik. Taman-taman kota diratakan untuk membuat jalan-jalan layang dan jalan tol. Tanah-tanah lapang disulap menjadi gedung-gedung bertingkat. Kau tahu, Liana, anak-anak kecil di kota yang kusinggahi ini sudah tidak punya lagi tempat bermain bola, layang-layang, gobak sodor dan permainan lainnya yang dulu semasa kecil sering kita mainkan bersama kawan-kawan kita. Tempat bermain mereka kini berpindah di dalam gedung-gedung dan mall-mall. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang hanya bermain di depan layar tivi, komputer dan playstation.

    Liana, dengan alasan itulah aku mengurungkan niatku menggali lubang untuk menyembunyikan selimut jingga di dalam tanah. Biarlah selimut jingga tetap di balik jaketku dalam pelarianku.

    Aku berlari masuk ke hutan-hutan, sebisa mungkin jauh dari manusia, sambil memikirkan bagaimana caranya untuk menyembunyikan cahaya jingga yang kucuri dari senja agar tidak mengundang kecurigaan orang-orang. Pastinya, di kota yang kusinggahi itu, telah tersebar kabar bahwa jingga telah dicuri oleh seseorang. Besok, ciri-ciri dan reka wajahku pasti tercetak di koran-koran, terpampang di dinding-dinding dan tiang listrik; dan tersiar di berita-berita.

    Aku yakin malam telah sangat larut saat aku menemukan sebuah gua kecil di tengah hutan itu, lebarnya tak sampai serentangan kedua tanganku. Aku memasukinya. Kusandarkan tubuhku yang lelah di dinding gua. Aku buka jaketku dan kuletakkan selimut jingga yang terlipat di atas tanah. Dengan cahaya jingga yang berpendar dari selimut itu, aku bisa melihat seisi gua. Dinding-dindingnya lembab dan berlumut. Beberapa ekor tikus berlari menjauh dariku, sementara serangga-serangga kecil beterbangan mengitari dan hinggap di selimut jingga itu.

    Kembali di benakku muncul sebuah gagasan. Kenapa tidak aku tinggalkan saja selimut jingga itu di dalam gua, dan membiarkan mahluk-mahluk di dalam gua yang telah lama hidup dalam kegelapan, akhirnya bisa menikmati cahaya. Kutinggalkan selimut jingga itu di kedalaman gua, sementara aku perlahan melangkah keluar. Sesampainya aku di mulut gua, tanpa sengaja kepalaku mendongak ke langit. Kau tahu apa yang kulihat di sana, Liana? Ya, hadiah lain yang kukirimkan dalam paketku bersama selimut jingga itu.

    Di langit itu aku melihat kegelapan. Kegelapan yang sempurna. Hitam, pekat. Bintang-bintang tak ada. Bulan pun tak ada. Senyum lebar mengembang di bibirku. Senyum kemenangan. Senyum kebahagiaan. Betapa bahagianya aku jika memikirkan saat-saat itu, saat aku akhirnya menemukan jalan agar bisa mengirimkan selimut jingga itu kepadamu. Kau pasti tidak akan pernah mengira, jika kegelapanlah yang akhirnya menyelamatkanku, menyelamatkan selimut jingga itu.

    Dengan pisau lipatku, kukerat langit malam selebar kurang lebih satu meter. Aku kembali melangkah ke dalam gua untuk mengambil selimut jingga itu. Selimut jingga yang telah kucuri dari senja itu kubungkus dengan keratan langit malam itu. Ajaib. Cahaya jingga senja lenyap di dalam balutannya. Aku lega. Dengan bungkus keratan langit malam itu juga akhirnya aku kirimkan selimut jingga yang kucuri dari senja kepadamu, Liana. Jika suatu saat kau menerima kiriman paket sebesar kotak sepatu, jangan kaget kalau di dalamnya ada hadiah terindah yang bisa kupersembahkan kepadamu, Liana. Ya, hadiah itu adalah selimut jingga yang telah kucuri dari senja yang kubungkus dalam sekerat langit malam.

    Jatinangor, 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s